Home » article » Opini: Meluruskan (Kembali) Makna Pendidikan

Opini: Meluruskan (Kembali) Makna Pendidikan

Oleh : Muhammad Arief Rizka

Persoalan yang muncul dalam kehidupan kita akhir-akhir ini bersifat multidimensional yang menunjukkan semakin kompleksnya realitas tanpa arah yang jelas. Makna dari realitas tersebut adalah ketidakseimbangan hidup sehingga menimbulkan efek bergulir yang merambah ke semua aspek kehidupan. Kita semua sepakat bahwa untuk menciptakan keseimbangan hidup dibutuhkan solusi yang tidak hanya bersifat tentatif, tetapi solusi yang lebih strategis yang memunculkan rasa optimis. Akan tetapi ironisnya, rasa optimis tersebut belum muncul secara massif dari sebagaian besar masyarakat kita, pun demikian dengan para pemimpin yang notabene merupakan representasi dari eksistensi masyarakat. Hal ini secara faktual bisa disebabkan oleh munculnya dis-trust yang menyebabkan ekses pola pikir dalam bentuk pembentukan ‘opini’ yang sesat di setiap elemen masyarakat.

Dalam konteks permasalahan yang dimensional tersebut, pendidikan memainkan peran yang sangat strategis untuk dapat melalukan improvisasi dan kolaborasi secara utuh atas berbagai persoalan yang terjadi saat ini. Realitasnya, pendidikan yang dijadikan sebagai tombak pemecahan berbagai masalah tersebut justru mengalamai reduksi bahkan distorsi makna sehingga menjadikan kabur esensi visi yang diemban. Pendidikan hanya dimaknai sebagai proses yang prosedural dari aktivitas transfer of knowledges, bahkan untuk menjawab tantangan abad ke 21 ini pendidikan dimaknai sebagai proses transfer of skills. Justru dengan pemaknaaan parsial seperti itu semakin membuat ketidakpastian arah dan ambivalensi visi, mau dibawa kemana seluruh tumpah darah bangsa yang tercinta ini?.

Reduksi dan distorsi makna pendidikan tersebut terlihat dalam indikasi dua permasalahan fundamental yang sampai saat ini masih belum terpecahkan. Ife dan Tesoriero (2008) menjelaskan bahwa kemajuan dari berbagai sistem (dalam konteks ini sistem pendidikan) yang dibanggakan sekarang ini terbukti belum mampu mewujudkan; (1) kebutuhan manusia untuk dapat hidup harmonis dengan alam, dan (2) kebutuhan manusia untuk dapat hidup harmonis dengan sesama manusia. Artinya bahwa, kita membutuhkan suatu aksi strategis yang kongkrit dan bukan sekedar abstraksionis an sichmelalui proses meluruskan (kembali) atas pemaknaan pendidikan yang kita jadikan sebagai ‘pintu utama’ menuju perubahan masyarakat yang transformatif.

Pendidikan, Bukan Hanya (di) Sekolah.

Secara umum, pandangan masyarakat kita tentang pendidikan masih sangat terbatas pada suatu area minimalis yang tidak jauh dari pola pikir ‘reduksionis’. Pendidikan dari konteks jalurnya masih dipahami secara parsial, dengan indikator memaknai jalur pendidikan hanya di satu tempat yang formal (sekolah). Jika tidak formal (sekolah), maka itu bukan suatu proses pendidikan yang output-nya tidak bisa memberikan jaminan dari pencapaian struktur standarisasi yang sudah rigid. Pemahaman tentang pendidikan yang parsial tersebut menjadikan ruang demokratisasi pendidikan yang tidak sehat dan menimbulkan bias reduksionis, karena justru pendidikan yang lebih prioritas dan bersifat fungsional untuk pengembangan kepribadian yang berkarakter dan professional secara faktual lebih banyak diperoleh melalui jalur pendidikan non formal dan informal (atau dikenal dengan terminologi Pendidikan Luar Sekolah). Bahkan jika ditinjau dari sisi kebermanfaatannya, pendidikan non formal dan informal lebih bersifat aplikatif dantangibel dalam memenuhi serta menjawab tantangan kebutuhan masyarakat secara responsif dan relevan.

Praksis Pendidikan

Pada praktiknya, makna pendidikan sekarang ini sudah terlalu jauh diselewengkan sehingga memberikan image negatif terhadap proses pendidikan. Pendidikan mengalami pergesaran nilai yang pada dasarnya mencakup domain sosio-kultural menjadi domain ekonomis-materialis yang berkarakter kapitalis sehingga menciptakan komersialisasi, dikotomi, dan yang lebih berbahaya lagi adalah diskriminasi. Padahal semua pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara kita ini mulai dari Pancasila, UUD RI tahun 1945, sampai pada UU No 20 Tahun 2003 yang mengatur tentang Sistem Pendidikan Nasional pun memberikan suatu penegasan yang sama yaitu pendidikan adalah untuk semua (educaton for all). Untuk memberikan pemaknaan yang lebih jelas terhadap konsep tersebut, Anies Bawesdan (2011) meluruskan makna pendidikan untuk semua itu adalah pendidikan yang berkulitas untuk setiap orang (eductioan for every one).

Proses pendidikan yang berlangsung sekarang ini terlalu fokus pada pengembangan  muatan kognitif, bahkan untuk mengukur keberhasilan individu dalam mengenyam proses pendidikan ditentukan sebagian besar oleh ujian penguasaan kognitifan sich, bahkan untuk ‘mensakralkan’ ujian kognitif tersebut diciptakan suatu ‘nomenkaltur’ yang disebut Ujian Nasional (UN). Dengan pola seperti itu, ada tendensi melakukan ‘pengkhianatan’ terhadap konsep luhur yang telah diusung oleh banyak ahli pendidikan mengenai individual differences yang sebenarnya menjadi dasar dari penyelenggaraan proses pendidikan. Implikasi dari pola pendidikan yang berlangsung seperti itu adalah terciptanya generasi ‘X’ yang tidak paham, tidak sensitif, dan tercerabut dari akar realitas sosialnya, tidak memiliki kecerdasan spiritual dan emosional yang matang menjunjung nilai-nilai universal, dan tidak memiliki karakter serta minim keadaban. Singkatnya bahwa proses pendidikan sekarang terlalu mementingkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang mengesampingkan pentingnya penguasaan sikap mental yang transformasional. Bahkan proses pendidikan akhir-akhir ini secara sistematis mendidik generasi masa depan kita untuk kepentingan imperialisme (Jaya Suprana, 2012), hal ini bisa dilihat dari sikap mental generasi kita yang xenofilia(kegemaran dan kebanggaan terhadap segala sesuatu yang bersifat asing), padahal negara-negara maju di dunia ini menanamkan sikap mental xenofobia (ketakutan terhadap segala sesuatu yang bersifat asing) kepada  generasi masa depannya.

Meluruskan (Kembali)   

Pendidikan hakikatnya adalah proses pembudayaan atau akulturasi nilai-nilai dengan karakter transformatif yang menjadi pegangan hidup bersama sehingga bersifat universal. Pendidikan merupakan proses pengembangan kesadaran berpikir holistik yang menjunjung tinggi dimensi kemanusiaan tanpa mengesampingkan privilese alam (ekologis). Yang lebih penting lagi, pendidikan selalu memprioritaskan keseimbangan yang tidak hanya menghasilkan individu yang kompetitif unggul secara hardskills, akan tetapi yang lebih diutamakan adalah unggul secara softskills.

Sehingga dengan kenyataan mengenai makna pendidikan akhir-akhir ini, meluruskan (kembali) makna pendidikan yang lebih holistik dan kontekstual sangat wajib dilakukan sebagai manifestasi tanggung jawab moral. Pendidikan tidak ingin menghasilkan ‘parsialitas’ seperti yang berlangsung sekarang ini sehingga memunculkan disparitas yang implikasinya pada demoralitas. Pendidikan adalah proses holistik yang menekankan pada prinsip keseimbangan yang transformatif. Makna pendidikan yang hakiki dapat kitareview dengan mendeskripsikan secara utuh sesuai dengan amanah UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional pasal 1 ayat (1) yang menyebutkan bahwa;“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.” Artinya bahwa, pendidikan secara fundamental ingin mewujudkan insan Indonesia yang dapat menjawab; untuk siapa kita ada?, kemana kita akan pergi?, dan bagaimana cara kita untuk menuju kesana?. Logika sederhana tapi bermakna inilah yang harus dipahami kembali jika kita sunguh-sungguh ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, apalagi jika kita ingin memanusiakan manusia.